oleh

Yahya Staquf Menstigma Negatif Ajaran Islam Khilafah

-Narasi-507 views
Spread the love

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Rasionalnews Narasi (14/01/2022)

“Kami merekomendasikan agar masyarakat dan pemerintah tidak memberikan stigma negatif terhadap makna jihad dan khilafah,”

[Ketua Fatwa MUI, Asrorum Niam Soleh di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Kamis 11/11/2021]

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak pandangan yang sengaja mengaburkan makna jihad dan Khilafah bukan bagian dari Islam. MUI menegaskan Jihad dan Khilafah adalah ajaran Islam, dan meminta agar pemerintah dan masyarakat tidak memberikan stigma negatif terhadap Jihad dan Khilafah.

Hal itu, merupakan salah satu poin kesepakatan dari 12 kesepakatan hasil Ijtima’ Komisi Fatwa MUI yang berlangsung tiga hari di Jakarta yang membahas 17 masalah, termasuk masalah jihad dan khilafah, kriteria penodaan agama, serta tinjauan mengenai pajak, bea-cukai, dan retribusi. Ketika itu, para ulama membahas masalah pemilihan umum, distribusi lahan untuk pemerataan dan kesejahteraan, hukum mata uang crypto, hukum akad pernikahan via daring, dan hukum layanan pinjaman daring (11/11/2021).

Namun anehnya, Yahya Cholil Staquf dalam forum penyampaian struktur pengurus PBNU, saat menjawab pertanyaan Wartawan seputar isu intoleransi, menyampaikan konsekuensi realistis dari upaya penegakan Khilafah adalah dengan cara harus meruntuhkan peradaban dunia sama dengan meminta korban ratusan atau mungkin miliaran nyawa dari umat manusia. (12/1/2022). Sungguh, sebuah pernyataan yang merupakan kekhilafan serius terhadap ajaran Islam Khilafah, sekaligus patut diduga berusaha memberikan stigma negatif terhadap ajaran Islam Khilafah.

Padahal, MUI telah mewanti-wanti agar pemerintah dan masyarakat tidak menstigma negatif ajaran Islam Khilafah. Pernyataan Yahya ini, mengaburkan hakekat perjuangan Khilafah yang diperjuangkan oleh umat Islam, perjuangan Khilafah adalah upaya untuk menunaikan kewajiban Islam yang agung.

Khilafah sendiri, diperjuangkan dengan dakwah, secara pemikiran dan politik, tanpa kekerasan dan tanpa aktivitas fisik. Perjuangan Khilafah, wajib mencontoh perjuangan Rasulullah Saw ketika berusaha menegakkan kekuasaan di Mekkah hingga akhirnya hijrah dan memperoleh kekuasaan di Madinah.

Jika kita kaji Siroh Nabawiyah, maka terdapat contoh perjuangan penegakan syariat Islam agar mewujud dalam institusi kekuasaan (negara). Mendirikan Negara Islam atau Khilafah Islam merupakan kewajiban syariah.

Metode yang diambil untuk menegakkannya harus diambil dari sunnah Nabi saw dalam mendirikan Negara Islam. Metode tersebut tercermin dalam tiga tahapan:

(1) pengkaderan (at-tatsqîf);

(2) interaksi dengan umat (at-tafâ’ul), termasuk di dalamnya adalah pencarian dukungan dan pertolongan (thalab an-nushrah);

(3) penerimaan kekuasaan dari peliki kekuasaan (istilâm al-hukmi).

Sunnah Nabi saw menunjukkan atas tiga tahapan tersebut dalam mendirikan Negara Islam di Madinah. Dengan demikian kita wajib mengikuti metode yang tercermin dalam tiga tahapan.

Secara umum ada persamaan antara masyarakat kita dan masyarakat Makkah atau pra-Madinah dalam hal pemikiran, perasaan dan sistem kufur yang mendominasinya. Yang berbeda hanyalah keyakinan mayoritas individunya.

Di masyarakat Makkah kebanyakan kaum musyrik. Adapun di masyarakat kita saat ini kebanyakan kaum Muslim. Karena itu yang kita lakukan adalah menyeru mereka untuk melanjutkan kehidupan Islam di dalam institusi Khilafah Islam sebagaimana dulu.

Dengan demikian kita wajib terikat dan konsisten dengan tiga tahapan di atas sebagaimana dicontohkan Nabi saw. saat berdakwah di Makkah. Karena itu, tidak boleh ada kekerasan fisik/bersenjata untuk menegakkan Khilafah.

Metode yang ditempuh mengikuti Sunnah ini, tidak akan menimbulkan korban jiwa apalagi seperti yang dituduhkan Yahya Cholil Staquf. Saat Rasulullah Saw mendirikan negara di Madinah, tidak ada satu tetes pun darah yang tertumpah.

Menuding perjuangan menegakkan kembali Khilafah sebagai upaya yang berkonsekuensi meminta korban ratusan hingga milyaran nyawa dari umat manusia jelas sebuah stigma negatif yang bertentangan dengan rekomendasi MUI. Semoga, umat Islam dapat meneladani Rasulullah Saw yang menegakkan Islam secara kaffah, dengan kembali menegakkan khilafah sesuai dengan metode yang diajarkan as Sunnah. [].

Komentar